Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Kisah Pada Zaman Rasulullah

Suatu ketika Rasulullah saw berada didilam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk barsilahturahmi dan memberi tausiyah. Tiba-tiba masuklah seorang pria kedalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengen cepat. Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah saw dan mengucapkan salam.

Rasul berkata pada pria itu "Sahabatku, engkau tadi belum shalat !" betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah saw. Ia pun kembali ketempat shalat dan mengulangi shalatnya.
Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah saw tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu.

Setelah melaksenekan shalat itu kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasullah saw. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! engkau tadi belum shalat".

Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah saw. Tentunya dengan gaya shalat yang sama. Namun seperti "biasanya" Rasulullah saw menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali.

Karna bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu, dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karna itu, ajarilah aku !". "Sahabatku," kata Rasulullah saw dengan tersenyum, "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-fatihah dan surat dalam Al-qur'an yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thumaninah), lalu bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu".

MODUL HAFALAN DOA

I.METODE PEMBELAJARAN

1.Pengajar mengajarkan doa dan artinya, serta pemahaman terhadap doa yang di ajarkan.
2.Murid mengulang bacaan doa yang di ajarkan oleh pengajar.
3.Pengajar menilai hafalan doa murid.

Adab dalam berpakaian

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan sebuah radio yaitu Fajri FM sebuah radio yang mengkaji tentang Islam. Di frekuensi itu sedang ada kajian tentang adab dalam berpakaian dan saya sengaja mencatatnya. Mungkin ini bisa bermanfaat bagi kita makanya saya coba menuliskannya disini.. selamat membaca dan mencoba yaa  (saya pun baru tau dan sedang dalam proses belajar koq)

Kamis, 17 November 2011

Syiroh Nabi Ibrahim


Alkisah, Nabi Ibrahim as. Memiliki seorang istri bernama Siti Sarah. Selama pernikahan mereka, Nabi Ibrahim tidak dikarunia seorang keturunan. Karena rasa cinta kasihnya Siti Sarah yang begitu besar, beliau mengijinkan Nabi Ibrahim untuk menikah lagi. Siti Sarah mencalonkan Siti Hajar (dayang Siti Sarah) untuk menjadi madunya. Akhirnya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim pun menikah.
Selama penantian beberapa tahun Allah belum kunjung memberikan seorang keturunan pada keluarga Nabi Ibrahim. Hingga suatu ketika penantian panjang itu pun berakhir dengan datangnya suatu kabar gembira bahwa Siti Hajar sedang mengandung. Namun, berita gembira tersebut harus disembunyikan dari Siti Sarah. Hal ini dilakukan untuk menjaga perasaan Siti Sarah sebagai istri tua Nabi Ibrahim. Segala cara telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Siti Hajar agar berita itu tidak sampai ke telinga Siti Sarah, tapi pada akhirnya apapun yang di sembunyikan toh suatu saat terungkap juga. Benar saja, akhirnya Siti Sarah mengetahui berita kehamilan Siti Hajar. Siti sarah akhirnya mengusir Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dari rumah mereka.
Dalam perjalanan panjang Nabi Ibrahim dan Siti Hajar setelah pengusiran itu, mereka hanya di temani dengan seekor unta dan persediaan makanan yang terbatas. Nabi Ibrahim berserah diri kepada Allah, dimana pun unta yang membawanya dan Siti Hajar itu beristirahat (berhenti setelah perjalanan itu) maka disitulah beliau akan menetap dan menjadikan sebuah peradaban (baitullah).
Setelah berbulan-bulan tinggal disana, Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah bahwa beliau harus pergi dari tempat itu (baitullah) kembali lagi ke Yerusalem (rumah Siti Sarah). Dengan begitu beratnya Nabi Ibrahim menerima perintah tersebut karena itu artinya beliau harus meninggalkan Siti Hajar yang sedang mengandung sendirian.
Lalu Nabi Ibrahim memantapkan diri seraya berdoa :
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim : 37)
Siti Hajar pun merelakan kepergian suaminya. Tinggallah ia sendiri di tengah-tengah gurun pasir yang gersang. Beberapa bulan berlalu, kini Siti Hajar telah melahirkan seorang anak yang kelak akan meneruskan perjuangan ayahnya di jalan Allah, Ismail namanya.
Suatu ketika Siti Hajar mengalami kehausan satelah menyusui Ismail, ia berjalan mencari sumber air dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah. Namun hasilnya nihil tak ada sedikitpun air yang ia temukan. Siti Hajar tak putus asa, ia terus mencari sumber air hingga berjalan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Pada kali ke tujuh ia menemukan sumber air (sekarang dikenal sebagai air zamzam. Dalam beberapa riwayat disebutkan air tersebut muncul karena malaikat Jibril di utus Allah untuk menggali dengan lututnya, dan sebagian riwayat mengatakan air tersebut muncul karena malaikat jibril menggali dengan sayapnya). Lalu dibasuhkanlah air tersebut ke bibir Ismail yang juga sedang ke hausan karena air susu Siti Hajar yang mengering.
Pada saat itu ada sekumpulan orang dari kaum  yang juga kehausan dan sedang mencari sumber air bertemu dengan Siti Hajar yang sedang minum, kaum itu meminta ijin untuk meminum air yang ditemukan oleh Siti Hajar. Kaum tersebut merasakan kenikmatan dan kesegaran yang muncul setelah meminum air tersebut sehingga mereka memutuskan untuk menetap disana. Dan inilah cikal bakal peradaban di Baitullah.
Beberapa tahun berlalu setelah kejadian itu, kini Ismail telah tumbuh besar. Pada suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi tentang anaknya Ismail yang harus disembelih. Lalu Nabi Ibrahim mendatangi anaknya dan menceritakan perihal mimpinya tersebut. Seperti tertulis dalam Al-Qur’an :
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."”. (QS. Ash Shaaffaat:102).
Lalu dilanjutkan lagi dengan QS. Ash Shaaffaat : 105-110. Inilah asal muasal tentang Penyembelihan hewan qurban (biasa dilakukan saat Idul Adha). Inilah bukti betapa besar kataatan serta kecintaan Nabi Ibrahim terhadap Allah dan betapa ikhlas serta sabarnya Ismail terhadap segala perintah Allah yang disampaikan lewat ayahnya.
Kemudian setelah bertahun-tahun, tempat yang ditinggali oleh Ismail yaitu Baitullah ramai oleh pendatang dari kaum tersebut  yang sengaja memboyong sanak keluarganya untuk tinggal dan menetap disana. Lalu inilah tugas baru yang di emban keduanya yaitu menjadikan Baitullah sebagai tempat peradaban. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".” (QS. Al Baqarah:127).